Laman

Senin, 03 Februari 2014

Saatnya Rehabilitasi Bagi Korban Napza (Policy Brief)

Undang-Undang Narkotika menjamin rehabilitasi medis dan sosial bagi pengguna narkotika. Ini sangat berguna untuk memulihkan kesehatan korban dari ketergantungan terhadap narkoba, memperbaiki kualitas hidup dan menghindarkan diri dari penularan HIV dan AIDS dan penyakit infeksi menular lainnya seperti IMS (Infeksi Menular Seksual), HCV (Hepatitis C Virus).

Penggunaan Dan Peredaran Napza Semakin Tinggi
Khususnya di Indonesia peredaran napza sangat menjamur sampai ke daerah-daerah terpencil, demikian juga pengguna napza menjadi semakin banyak. Hal ini membuat banyak pengguna napza yang ditangkap. Walaupun banyak pengguna napza yang dipidana, tetapi peredaran napza di Indonesia tidak menurun, melainkan meningkat. Menurut data BNN tahun 2010 persentase pengguna napza di Indonesia 2,21%. (data BNN)

Penjara Menjadi Tempat Epidemi Peredaran Narkoba 
Pemenjaraan pengguna napza bukanlah solusi, rehabilitasi adalah solusi yang terbaik, dengan asumsi ; jika banyak pengguna napza yang direhabilitasi, pemakaian napza akan menurun, secara otomatis akan menurunkan peredaran napza itu sendiri akibat tidak adanya permintaan pasar. Selain itu pemidanaan korban napza sangat berdampak buruk terhadap korban napza itu sendiri, realitanya yang terjadi ketika pemidanaan korban napza dilaksanakan yang semula dari pecandu napza menjadi bandar, bahkan belajar melakukan kejahatan tindak pidana yang lain di dalam penjara.

Perspektif Komprehensif Terhadap Rehabilitasi Korban Napza Dalam Regulasi Indonesia
Meskipun di dalam Undang-Undang Narkotika tercantum pasal-pasal tentang rehabilitasi namun pasal-pasal tersebut tidak dilaksanakan secara optimal. Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 03 Tahun 2011 tentang rehabilitasi bagi korban penyalahguna narkoba hanya bersifat anjuran. Pelaksanaan rehabilitasi sosial dan medis bukan dilaksanakan oleh kementerian-kementerian terkait melainkan oleh aparat penegak hukum. Kepastian tentang institusi pelaksana penerima wajib lapor (IPWL) sebagaimana tercantum dalam PP No. 25 tahun 2011 belum jelas.

Upaya Mendasar Untuk Implementasi Rehabilitasi Korban Napza
Optimalisasi pelaksanaan pasal-pasal dalam UU Narkotika No. 35 Tahun 2009 yang mengatur tentang rehabilitasi korban napza dan PP No. 25 Tahun 2011 tentang wajib lapor bagi korban napza. Dibuatnya suatu ketetapan tentang putusan hakim yang mewajibkan rehabilitasi bagi korban napza. Pelaksanaan fungsi rehabilitasi medis dan sosial perlu segera diserahkan kembali kepada kementerian terkait.

Referensi : UU Narkotika No. 35 Tahun 2009, SEMA No. 03 Tahun 2011, PP No. 25 Tahun 2011, BNN.

Rabu, 06 Juni 2012

Doa

Tuhan, aku sudah lelah dengan semua ini...
Tuhan, aku sudah bosan dengan semua ini...
Tuhan, aku sudah kehilangan apa yang selama ini menjadi kekuatanku...
Tuhan, aku mohon kembalikan apa yang menjadi kekuatanku untuk menjalani hidup yang semakin lama semakin berat dan semakin rumit ini....
Tuhan, aku mohon dengarlah doa ku ini, karena aku selalu yakin akan kebesaranMu...

Sabtu, 17 Maret 2012

Rapat Kerja Nasional Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI) Bogor, 13-18 Maret 2012

Day 4,
Rakernas Hari ke-4 PKNI 2012 dilanjutkan dengan perumusan tujuan Rencana dan Strategi  serta turunannya dalam rencana kegiatan-kegiatan. Dari rencana kegiatan-kegiatan tersebut. Sedangkan dari rencana kegiatan-kegiatan itu maka tergambarlah beberapa implikasi dan hasil yang diharapkan untuk organisasi PKNI ke depan.

Jumat, 16 Maret 2012

Rapat Kerja Nasional Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI) Bogor, 13-18 Maret 2012

Day 3,
Rakernas Hari ke-3 PKNI dimulai dengan meneruskan SWOT untuk merumuskan apa yang menjadi rencana kerja PKNI. Pekerjaan ini dikerjakan dalam dua metode yaitu, pertama dengan metode diskusi bersama dengan fasilitator Mas Gambit, kemudian selepas istirahat diteruskan dengan diskusi per kelompok. Topik yang dibahas adalah apa yang ingin dicapai PKNI dalam 4 tahun ke depan menghadapi 3 masalah utama yaitu; Kebijakan, Akses, dan Organisasional. Kemudian dilanjutkan dengan membahas hal terkait Web PKNI yang mulai dapat diakses oleh kelompok-kelompok yang tergabung didalam keanggotaan PKNI.

Rapat Kerja Nasional Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI) Bogor, 13-18 Maret 2012

Day 2,
Acara hari kedua Rapat Kerja Nasional PKNI Tahun 2012 diawali dengan pemaparan hasil penjajakan kebutuhan PKNI oleh Suhendro Sugiharto selaku Manajer Program Badan Pekerja Nasional. Penjajakan kebutuhan anggota PKNI yang bertujuan untuk mengevaluasi program yang telah dilaksanakan kelompok dan merumuskan kebutuhan para anggota PKNI.
Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama yang dipandu oleh Bapak Ignatius Praptohardi atau yang biasa dipanggil Mas Gambit. Mas Gambit mengupas Organisasi PKNI dari mulai sejarah, visi-misi, serta nilai-nilai yang diusung organisasi PKNI. Acara ini juga tetap dikawal oleh beberapa perwakilan dari HCPI seperti Bapak Agus S. Dan Risa A. Sementara itu membantu Mas Gambit, Pak Simplexius Asa tetap ikut mengawal diskusi tersebut.

Rapat Kerja Nasional Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI) Bogor, 13-18 Maret 2012


Day 1,
Pada tanggal 14 Maret 2012 Rapat Kerja Nasional PKNI Tahun 2012 dimulai. Bertempat di Desa Gumati, Cijulang  Bogor. Acara ini dimulai dengan pembukaan oleh Ibu Wenita Indrasari selaku Asisten Deputi Pengembangan dari KPA NAsional yang mewakili Ibu Nafsiah Mboi, yang sekaligus memaparkan Strategi Rencana dan Aksi Nasional (SRAN) dari KPA Nasional. Dalam paparan ini ada sedikit diskusi dari teman-teman PKNI dengan KPA Nasional terkait masalah tersebut. Dalam acara pembukaan ini hadir juga ibu Catherine Baker selaku Team Leader HCPI dan Ibu Palupi Wijayanti selaku Advisor Penguatan Kelembagaan  HCPI. Di hari ini Kedua Wakil dari HCPI itu turut memaparkan harapan dan sempat menjawab beberapa pertanyaan dalam diskusi pemaparan SRAN HIV. Setelah itu ada pemaparan SRAN BNN dari Staf Rehabilitasi BNN Dr. Jodi. Acara yang dihadiri oleh Koordinator masing-masing kelompok anggota, Dewan Pengawas, Dewan Pengurus, serta Badan Pekerja Nasional PKNI ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok yang dipandu oleh Bapak Simplexius Asa.

Minggu, 15 Mei 2011

Kegunaan Medis

Kontributor: cipta

Sejarah penggunaan marijuana sebagai obat.
Cannabis pertama kali diketahui dapat digunakan untuk pengobatan yaitu dalam terapi pharmacopoeia di negeri Cina yang di sebut Pen Ts’ao. Pharmacopoeia adalah sebuah buku yang berisi daftar obat-obatan serta cara persiapan dan penggunaannya. Cannabis disebut sebagai “Superior Herb” oleh Kaisar Shen Nung (2737-2697 SM), yang diyakininya sangat manjur dan mujarab. Cannabis direkomendasikan sebagai pengobatan untuk berbagai penyakit umum. Sekitar periode yang sama di Mesir, ganja digunakan sebagai pengobatan untuk sakit mata. Ramuan ini digunakan di India dalam upacara budaya dan agama, dan dicatat dalam kitab suci teks Sansekerta sekitar 1.400 SM. Ganja dianggap sebagai ramuan kudus dan ditandai sebagai ” soother of grief ” atau ” the sky flyer,” dan “surga orang miskin.” Berabad-abad kemudian, sekitar 700 SM, orang-orang bangsa Asyur menggunakan ramuan yang mereka sebut Qunnabu yang digunakan sebagai dupa. Orang Yunani kuno menggunakan ganja sebagai obat untuk mengobati peradangan, sakit telinga, dan edema (pembengkakan bagian tubuh karena pengumpulan cairan). Tak lama setelah 500SM seorang sejarawan dan ahli geografi, Herodotus mencatat bahwa masyarakat Scythians menggunakan ganja untuk menghasilkan linen yang halus. Mereka juga menyebutnya sebagai rempah Cannabis dan menggunakannya dengan cara menghirup uapnya yang dihasilkan ketika dibakar. Pada tahun 100 SM bangsa Cina telah menggunakan ganja untuk membuat kertas.
Budidaya ganja serta penggunaannya bermigrasi dan bergerak ke berbagai pedagang dan pelancong. Pengetahuan mengenai nilai herbal ini menyebar ke seluruh Timur Tengah, Eropa Timur, dan Afrika. Sekitar tahun 100 sesudah masehi, Dioscorides, seorang ahli bedah di Legions Romawi di bawah Kaisar Nero, menamakan rempah ini dengan nama Cannabis sativa herbal dan tercatat penggunaannya untuk berbagai obat. Pada abad kedua, dokter dari negeri Cina yang bernama Hoa-Tho, menggunakan ganja dalam prosedur pembedahan yang di sesuaikan pada sifat analgesik nya. Di India kuno, sekitar tahun 600, penulis Sansekerta mencatat resep untuk ” pills of gaiety”  atau “pil keriangan”, yaitu suatu kombinasi antara ganja dan gula. Pada tahun 1150, umat Islam telah menggunakan serat ganja dalam produksi kertas pertama di Eropa. Ini adalah penggunaan ganja sebagai sumber terbarukan yang tahan lama untuk serat kertas yang berlanjut hingga 750 tahun berikutnya.
Pada sekitar tahun 1300-an, pemerintah dan otoritas agama khawatir tentang efek psikoaktif pada masyarakat yang mengkonsumsi ramuan ganja tersebut dan berusaha menempatkan pembatasan keras terhadap penggunaannya. Emir Soudon Sheikhouni dari Joneima mengatakan bahwa ganja dilarang digunakan oleh orang miskin. Dia menghancurkan tanaman dan memerintahkan pelanggaran penggunaan ganja. Pada 1484, Paus Innosensius VIII melarang penggunaan Hashish, yaitu suatu bentuk concentrated dari ganja. Budidaya Cannabis terus berlanjut karena nilai ekonomisnya yang tinggi. Sedikit lebih dari satu abad kemudian, Ratu Inggris Elizabeth I mengeluarkan dekrit yang memerintahkan agar pemilik tanah yang memegang enam puluh hektar ladang ganja atau lebih harus membayar denda.
Kegunaan Medis Tanaman Ganja
Tanaman ganja secara keseluruhan, termasuk kuncup, daun, biji, dan akar, semuanya telah digunakan sebagai ramuan obat sepanjang sejarah. Meskipun batasan hukum yang tegas dan hukuman pidana berat untuk penggunaan terlarang, ganja semakin banyak digunakan di Amerika Serikat dan di seluruh dunia, baik untuk sifat-sifatnya mengubah suasana hati dan penerapannya sebagai obat-obatan yang telah terbukti. Diskusi mengenai manfaat ganja dari segi keamanan dan efektivitas sangat bermuatan politis.
Marijuana telah terbukti sebagai obat analgesik, anti muntah, anti-inflamasi, penenang, anticonvulsive, dan tindakan pencahar. Studi klinis telah menunjukkan efektivitas ganja dalam mengurangi mual dan muntah setelah kemoterapi untuk pengobatan kanker. Tanaman ini juga telah terbukti mengurangi tekanan intra-okular di mata sebanyak 45%, dalam pengobatan glaukoma. Cannabis telah terbukti sebagai anticonvulsive, dan dapat membantu dalam merawat penderita epilepsi. Penelitian lain telah mendokumentasikan sebuah in-vitro efek penghambat tumor THC. Marijuana juga dapat meningkatkan nafsu makan dan mengurangi rasa mual dan telah digunakan pada pasien AIDS untuk mencegah penurunan berat badan serta efek lain yang mungkin timbul dari penyakit ini. Dalam sebuah studi penelitian beberapa kandungan kimia dari ganja menampilkan aksi antimikroba dan efek antibakteri. Komponen CBC dan d-9-tetrahydrocannabinol telah terbukti dapat menghancurkan dan menghambat pertumbuhan bakteri streptokokus dan staphylococci.
Ganja mengandung senyawa kimia yang dikenal sebagai canabinoid. Jenis canabinoid yang berbeda-beda memiliki efek yang berbeda pula pada tubuh setelah di konsumsi. Penelitian ilmiah mengindikasikan bahwa zat ini mempunyai nilai potensi terapi untuk menghilangkan rasa sakit, kontrol mual dan muntah-muntah, serta stimulasi nafsu makan. Zat aktif utama ganja yang teridentifikasi sampai saat ini adalah 9-tetrahydro-cannabinol, yang dikenal sebagai THC. Bahan kimia ini kemungkinan mengandung sebanyak 12% dari bahan kimia aktif dalam ramuan, dan memberikan pengaruh sebanyak 7-10% dari akibat yang di timbulkan seperti rasa gembira, atau “high” yang dialami saat mengkonsumsi ramuan ganja. Kualitas ramuan “euforia” ini tergantung pada saldo bahan aktif lain dan kesegaran bahan ramuan. THC ter-degradasi ke komponen yang dikenal sebagai cannabinol, atau CBN. Kimia aktif ini relatif tidak menonjol dalam ganja yang telah disimpan terlalu lama sebelum digunakan. Komponen kimia lain, cannabidiol, atau dikenal sebagai CBD, memiliki efek sedatif dan analgesik ringan, dan memberikan kontribusi ke somatic heaviness yang kadang-kadang dialami oleh pengguna ganja.
Pelarangan/prohibition
Sebelum adanya larangan, ganja direkomendasikan untuk pengobatan gonore, angina pektoris (konstriksi nyeri di dada karena darah tidak cukup untuk jantung), dan cocok untuk mengatasi tersedak. Ganja juga dapat digunakan untuk mengatasi insomnia, neuralgia, reumatik, gangguan pencernaan, kolera, tetanus, epilepsi, keracunan strychnine, bronkitis, batuk rejan, dan asma. Kegunaan lain adalah sebagai phytotherapeutic (nabati terapeutik) termasuk pengobatan borok, kanker, paru-paru, migrain, penyakit Lou Gehrig, infeksi HIV, dan multiple sclerosis.
Kebijakan pemerintah federal Amerika Serikat melarang dokter menggunakan resep ganja, bahkan untuk pasien sakit serius karena alasan efek samping yang mungkin diakibatkan dari efek adiktif cannabis yang berbahaya. Jaksa Agung AS Janet Reno memperingatkan bahwa para dokter di setiap negara yang memberikan resep ganja pada pasiennya akan kehilangan hak untuk menulis resep, kecuali dari Medicare dan Medicaid dan bahkan dituntut sebagai kejahatan federal, menurut sebuah editorial 1997 dalam Jurnal Kedokteran New England. (cpt)
Medical Marijuana